Sultanku Gubernurku!!!


Hm… sepertinya pembahasan keistimewaan Jogja tiada henti-hentinya. Sampai-sampai SIDANG RAKYAT digelar kemaren (Selasa, 25 Maret 2008) di depan gedung DPRD DIY yang nangkring di Jalan Malioboro, jantung kota Yogyakarta. Pas acara ini ga dateng langsung seh… bis kelupaan… tapi karena disiarkan secara live dari TVRI JOGJA… ee… tetep ajah telat nontonnya… Tapi paling ga sempet dengerin di acara kesimpulannya… dan tentunya dengan menambah referensi baca Koran langganan KOMPAS dan Kedaulatan Rakyat…

Pernyataan yang disampaikan sebenernya ga jauh dengan acara Pisowanan Agung yang telah digelar hampir satu tahun yang lalu… tepatnya di tanggal 18 April 2007 di Kraton Yogyakarta… (Nah kalo yang ini dateng langsung… secara masih kerja di TVRI Jogja… Malah punya rekamannya jawaban Ngarso Dalem saat ituh…)

Jadi sebenernya gimana seh Keistimewaan Jogja ituh… KR edisi hari inih (Rabu, 26 Maret 2008) pada kolom opini coba menjabarkan Undang-Undang smpai ke Keputusan Presiden yang menyangkut keistimewaan jogja…

Dari tulisan Bapak Haryadi Baskoro dan Sudomo Sunaryo di KR (Rabu, 26 Maret 2008) menjelaskan keistimewaan jogja itu bisa dilihat dari UU No.22/1948 Bab II (Tentang Bentuk dan Susunan Pemerintah Daerah) Bagian 5 (Kepala Daerah) ayat 5 trus dicabut dan diganti dengan UU yang baru yaitu UU No.1/1957 Pasal 25 ayat 1 sampai dengan penegasannya di Keputusan Presiden No.6/1959 Pasal 6 ayat 1. Nah… point dari 3 sumber ituh intinya tuh ada 5:

  1. Keistimewaan Daerah tuh karena pemimpinnya bukan dari Pilkada tapi dilipih ama Presiden
  2. Calon Kepala Daerah berasal dari keturunan keluarga yang bekuasa di daerah ituh dari jaman bahelak kapan tau… alias sejak sebelum RI berdiri
  3. Kepala Daerah masih menguasai daerahnya
  4. Calonnya punya kompetensi kepemimpinan
  5. Prosedurnya dilaksanakan dengan memperhatikan adat istiadat di daerahnya

 

 

Dan sidang rakyat yang kemaren ituh digelar dan dihadiri puluhan ribu warga Jogja yang menamakan dirinya ISMOYO (ING SEDYA MEMETRI ASRINING NGAYOGYAKARTA)… meminta kepada DPRD DIY buat cepet-cepet ngadain Sidang Paripurna untuk menentukan siapa Kepala Daerah DIY selanjutnya… Karena emang tahun ini jatahnya abis… Dan ribuan masa ini juga menyatakan menolak RUUK yang tidak sesuai dengan aspirasi rakyat…

Pusing juga yah… tapi gimana lagi… sejak dahulu kala… Jaman Sultan HB IX dan Pakualan ke VIII, Jogja ini selalu dipimpin Dwi Tunggal penguasa Kraton Jogja dan Pakualaman… Jika kita menilik sejarah lagi ada Piagam Penetapan Presiden Soekarno tertanggal 19 Agustus 1945 yang memang mengangkat Sultan HB IX untuk memimpin Daerah yogyakarta… Nah keliatan kan keistimewaannya… Kepala Daerah Yogyakarta dipilih oleh Presiden langsung…

 

Mau baca piagamnya??? Neh…

 

piagam-penetapan2.jpg

Sejarah juga mencatat Amanat Sulhan HB IX tertanggal 5 September 1945 yang bertepatan dengan tanggal 28 Puasa tahun Ehe 1876 (penanggalan jawa) isinya… baca lagi ya…

amanat-hb-9.jpg

Jadi gimana… Istimewa sekali kan Yogyakarta ini… ini semua menjadi lebih gempar dengan pernyataan Sultan HB X pada tanggal 7 April 2007 yang disampaikan di Orasi Budaya yang bertepatan dengan Ulang Tahun Ngarso Dalem di Kraton Ngayogyakarta juga… dimana beliau menyatakan…

  1. Dengan tulus ikhlas saya menyatakan tidak bersedia lagi menjabat sebagai Gubernur/Kepala Daerah Propinsi DIY pada purna masa jabatan tahun 2003-2008 nanti.
  2. Selanjutnya saya titipkanmasyarakat DIY pada Gubernur/Kepala Daerah Propinsi DIY yang akan datang.

 

 

Kalo mau baca selengkapnya… ada di draft Orasi Budaya Sultan HB X **klik ajah disini…**

Nah… pertanyaan ini dijawab saat acara Pisowanan Agung 18 April 2007 yang Ngarso Dalem menyatakan bahwa beliau selama 10 tahun ini menjadi gubernur belum bisa berbuat banyak dan mungkin dengan tidak menjadi Gubernur lebih bisa berbuat banyak untuk rakyat Jogja maupun Bangsa Indonesia.

Pernyataan Ngarso Dalem di akhir-akhir jawaban beliau di acara Pisowanan Agung 18 April 2007 menyatakan beberapa harapan beliau…

“Harapan saya, dari Jogja dengan kekuatan ROH yang ada itu merupakan peradaban yang membawa masa depan, keutuhan bangsa ini, saya ingin disumbangkan kepada Bangsa ini agar peradaban Bangsa ini juga tetap utuh menghadapi tantangan perkembangan baru.”

“Saya juga punya harapan kepada Bapak-Bapak dan Ibu sekalian khususnya warga Yogyakarta untuk diketahui, untuk dipahami, untuk ikhlas saya tidak jadi Gubernur karena saya akan menyumbangkan pikiran dan tenaga saya untuk Bangsa saya dari Yogyakarta ini.”

“Untuk RUU DIY Bapak-Bapak dan Ibu-Ibu tidak usah gelisah. Marilah kita sama mengwal RUU DIY itu. Bagaimana RUU ini bermanfaat untuk seluruh rakyat Yogyakarta…”

“Harapan saya, sebelum Pemerintah Pusat memutuskan, bersedia, untuk mendengarkan aspirasi rakyat Jogja terhadap keberadaan Daerah Istimewa Yogyakarta. Berarti rakyat juga mempunyai kesempatan menentukan masa depannya.”

**Pegel mode on… habis dengerin ulang rekaman pernyataan Ngarso Dalem…**

Setelah pernyataan beliau mau mundur, memang banyak spekulasi Sultan HB X akan berkiprah di kancah nasional. Dan sekarang memang sudah mulai banyak survei untuk calon Presiden 2009 nanti ya… Kalo yang pernah ngecalonin ini tidak mencalonkan kembali… maka Sultan HB X sekarang yang paling populer dan mendapatkan urutan pertama calon Presiden… Hm… Dan acara Pisowanan Agung itu juga diramaikan dengan spekulasi bahwa Sultan sedang mencoba menghitung masa yang mendukungnya jika Ngarso Dalem benar akan melangkah ke kancah Nasional… STOP!!! **karena daku tak mengerti politik sekali… jadi tak akan kubahas lagi…**

Sebenernya lagi… Sultan HB X juga menyatakan keinginannya untuk masalah RUUK ini selesai sebelum masa jabatannya berakhir… which means… mustinya tahun ini beres ya… hm… mari kita tunggu sajah…

Jadi penasaran… daku sebagai warga Jogja seh pengennya Jogja tetep jadi daerah Istimewa… Masalah Kepala Daerah dan wakilnya yang dari dulu kala tak tergantikan… ini neh yang bingung…

Jadi… Kalo kamu gimana… Sultanku Gubernurku atau Sultanku Presidenku…

 

 

 

 

 

 

12 thoughts on “Sultanku Gubernurku!!!

  1. bukannya saya cuman manut aja,
    tapi kalo saya percayakan sama masyarakat saja. misal masyarakat (lingkup jogja) mempercayakan beliau untuk tetap jadi Gubernur, monggo …
    kalopun masyarakat (lingkup nasional) mempercayakan beliau untuk jadi Presiden, hayuuuk aja … masing2 punya tanggungjawab … kalo pak Sultan mampu, saya sebagai bagian dari masyarakat Jogja mendukung sepenuhnya …
    saya yakin Jogja tetep istimewa kok … nggak cuman lima poin yang di sebut tadi …

    btw kalo pak Sultan jadi Presiden … saya ndak mau ibukotanya pindah ke Jogja.
    *boleh sependapat dan tidak to?*

    Meika: Ibukota pindah Jogja… Aduh bisa tutup kuping mulu dunk.. denger “ngiung-ngiung” Pak Presiden datang dan pergi…kan tetanggaan… kekeke… bisa-bisa rumahku termasuk kawasan steril dunk… ribet deh kyanya… hehehe…

  2. anginbiru says:

    waduh,, jangan pergi ke Jakarta sebagai presiden dung..! kalo sebagai pelancong mah gpp..! tapi kalo untuk menduduki istana negara,, jangan deh.. ntar Jogja ndak adem ayem lagi.. secara selama ini kan keberadaan beliau-lah yang sedikit banyak menjadi “penenang” bagi kita semua.. *amien..*

    jadi,, ya jelaslah,, Sultanku (tetep) Gubernurku..!!

    Meika: Kan Sultan Raja Jogja… **ada hubungannya kan…??!?!?**

  3. anginbiru says:

    maksud..? kok ndak dong yak..? huhu,, maafkan.. *bego mode: ON*

    btw,, kauman jadi Cendana-nya jaman Soeharto dung kalo ibukota pindah ke Jogja..? wkeke..

  4. Arul Azhar says:

    “Me-rename” Keistimewaan

    Saat akan berkomentar, saya sedang menunggu tamu dari Malaysia yang akan bertukar pikiran tentang menejemen organisasi Islam. Mereka dari Pertumbuhan Kebajikan An-Nida dan kami dari Muhammadiyah.

    Tema kali adalah “Sultan: Gubernur atau Presiden?”

    Melihat Malaysia sebagai negara persemakmuran Inggris, maka Yogyakarta bisa mengambil kebijakan yang sama. Sultan menjadi pemimpin simbolik masyarakat lokal sedangkan kepala administratif pemerintahan dilakukan oleh Gubernur hasil pemilihan langsung.

    Pertanyaannya, status keistimewaan bagaimana?

    Itu adalah bagian dari sejarah karena penghargaan dan penghormatan Presiden RI sebelumnya atas eksistensi Kesultanan Yogyakarta. Apakah kemudian relevan dengan terus mempertahankan keistimewaan kemudian mengorbankan demokratisasi? Jika saja, nilai keistimewaan dengan tetap menjadikan Sultan sebagai gubernur berbanding lurus dengan kesejahteraan, maka keistimewaan Yogyakarta bisa dilanggengkan.

    Satu hal lagi, kerajaan di Indonesia ini tidak hanya Yogyakarta melainkan berada pula di luar Jawa. Bayangkan apabila mereka menuntut “hak keistimewaan” yang sama dengan menggunakan baju “otonomi khusus” atau istimewa. Apa yang terjadi? Wilayah-wilayah Indonesia akan menumbuhkan raja-raja kecil.

    Masih ingin keistimewaan? Bisa. Rubah saja atau amandemen Undang-Undang Dasar dengan mengganti bentuk negara kita menjadi serikat, seperti diusulkan oleh Prof. Dr. Amien Rais, M.A beberapa lama waktu yang lalu. Tetapi itu akan menodai konsenus kita.

    Zaman sudah berubah sahabat. Keistimewaan harus di “rename”. Saya rasa dengan memposisikan Sultan sebagai simbol kepemimpinan Yogyakarta merupakan bentuk baru dari keistimewaan.

    Soal suksesi. Masyarakat harus mendapat pendidikan kewarganegaraan secara komprehensif (civic education) sehingga paham haknya dan kewajibannya sekaligus dan mampu berpikir secara kritis. Jangan sampai hanya digunakan sebagai kendaraan politik partai tertentu.

    Nilai keistimewaan bagi saya adalah kemampuan masyarakat untuk mentransformasikan nilai-nilai adiluhung etika Jawa dalam aspek kehidupan sosial.

    Sekarang hampir pukul 09.00, tamu sudah akan datang. Kita sambung dalam diskusi publik yang akan datang.

    Fastabiqulkhairat.

  5. Jogja Istimewa, Istimewa Jogja
    Saya salah seorang yang percaya bahwa Negara Kerajaan adalah konsep kenegaraan yang terbaik diberlakukan di dunia saat ini. Terbukti bahwa beberapa negara maju di dunia adalah berbentuk monarki, meski tidak semuanya murni monarki. Sebut saja Inggris, Belanda, Jepang dan negara-negara di Timur Tengah. Juga terbukti di Thailand dan Malaysia yang cukup tangguh menghadapi krisis ekonomi global tahun 1997 kemarin.

    Negara kerajaanpun tidak menghilangkan makna demokrasi. Raja adalah simbol, sedangkan yang menjalankan pemerintahan adalah Perdana Menteri atau siapapun yang ditunjuk secara demokrasi.

    Namun Jogja dengan keistimewaannya yang diperoleh dari pemerintah pusat, bahwa Gubernur dan Wakil Gubernur adalah dari Kesultanan Ngayogjakarta Hadiningrat dan Pakualaman tidaklah sama persis. Karena Jogja yang berbentuk kerajaan adalah bagian dari sebuah negara demokrasi yang menganut republik, bukan monarki. Jogja bukanlah sebuah negara yang berdiri sendiri. Sungguh lucu dan menggelikan, seorang raja harus tunduk kepada Presiden?!

    Jangan-jangan ini pembodohan politik yang sudah mengakar sejak jaman dahulu.

    Bayangkan semisal – sekali lagi semisal – Raja Jogja kita sudah uzur dimakan usia. Untuk sekedar menghapal saja sudah rumit. Sedangkan beliau musti hadir rapat kenegaraan bersama Gubernur lainnya di Istana Negara dipimpin oleh Presiden Republik Indonesia . Untuk memikirkan cara berjalan saja, pasti sudah mumet setengah modar, apalagi mengurus rakyat. Come on!

    Sri Sultan Hamengkubuwono ke X-pun sudah menyatakan kesediaannya untuk tidak bersedia menjadi Gubernur. Silahkan rakyat Jogja yang memilih siapa Gubernurnya. Karena saya yakin betul, Sri Sultan sekarang adalah produk modern yang paham betul bahwa jabatan pemerintahan berbeda dengan jabatannya sebagai Raja. Bahwa jabatan pemerintahan cukup dalam waktu sementara saja. Bahwa power tends to corrupt, absolute power corrupts absolutely. Sri Sultan Jogja cerdas dan pandai bermain politik.


    Mengambil ide dari Raja dan Perdana Menterinya, alangkah lebih baik Raja Jogja adalah sebagai simbol yang tetap memerankan peranan penting dalam pemerintahan, namun tidak terlibat langsung dalam menjalankan roda pemerintahan. Dengan demikian Jogja tetap tidak kehilangan keistimewaannya.

    Sri Sultan walau bagaimanapun tetap akan dipandang sebagai raja dan tetap dicintai oleh rakyat Jogja.

    Buat saya, Jogja tetaplah istimewa apapun yang terjadi dengan Keistimewaan Jogja.

    Aryo Diponegoro
    Pernah hidup di Jogja 24 Tahun…
    Baca yang lain di http://aryodiponegoro.blogspot.com/

    Meika: Saya juga sudah tinggal di Jogja 26 tahun mas… hehehe…

  6. Budi S says:

    Kadang saya juga bingung apa sih istimewanya Yogyakarta…..yang jelas perlu diingat :
    – Sebelum Indonesia merdeka, sudah banyak tokoh Yogyakarta yang memperjuangkan kemerdekaan Indonesia, tanpa memikirkan soal keistimewaan Yogyakarta. Sebut saja Ki Hajar Dewantoro, Ki Bagus Hadikusumo, Kahar Muzakir, KH Fahrudin…dan masih banyak lagi..bagi beliau-beliau yang penting berjuang untuk Indonesia dan masyarakat Indonesia.
    Pada saata Kabinet Pertama dibentuk Ki Hajar Dewantoro ditunjuk sebagai menteri pengajaran, beliau tidak perlu menunggu maklumat HB IX yang menyatakan Yogyakarta bergabung dengan NKRI.
    Pada saat proklamasi Indonesia, maka rakyat Yogyakarta juga menyambut dengan gembira tanpa risau dan menunggu maklumat HB IX.
    Setelah ditetapkan HB IX sebagai Gubernur Kepala Daerah dan Pakualam VIII sebagai Wakil Gubernur kedpalah Daerah, maka kita juga tahu selama puluhan tahun HB IX lebih sering di Jakarta menjabat bewrbagai jabatan penting, sehingga DIY dipimpin oleh Pakualam VIII, juga TIDAK ADA MASALAH.
    Kemudian ketika HB IX wafat, maka Pakualam VIII diangkat sebagai Gubernur, juga TIDAK ADA MASALAH.
    Baru setelah Pakualam VIII wafat maka kita tahu ada rame-rame minta penetapan HBX sebagai Gubernur, padahakl waktu itu DPRD sedang mempersiapkan pemilihan Gubernur. Rupanya kemudian muncul penetapan HB X sebagai Gubernur. Kemudian kita juga tahu bahwa untuk jabatan Wakil Gubernur dilakukan pemilihan di DPRD dan berlangsung TANPA MASALAH.
    Lha koq sekarang ketika jabatan gubernur mau habis..baru pada bingung dan mempermasalahakan yang TIDAK BERMASALAH.
    Ada sesuatu yang menarik pada usia 10 tahun REFORMASI ini, dituluis oleh KR bahwa PKB, GOLKAR dan PDIP setuju penetapan Gubernur, PAN setuju keistimewaan, PKS belum menentukan sikap. Maka kita tahu mana partai yang REFORMIS dan mana yang STATUS QUO.

    Sumonggo…

  7. Denny Widyan says:

    saya sih tak ngerti apa2 tentang politik, siapapun presidennya, siapapun gubernurnya, saya minumnya tetap teh botol… asal rumah dan toko saya ga dijarah, asal keluarga saya ga diperkosa, asal saya bisa cari duit dengan tenang, hidup dengan nyaman, saya cukup senang… optimis mode on…😉

    Meika: hahaha… moga-moga toko keluarga saya juga tetep laris…😉

  8. hanggaku says:

    Satu hal yang perlu diingat,

    Keistimewaan Yogyakarta tidak hanya terletak dalam masalah PILKADA atau Penetapan. Sempet aku baca koran tempo hari lalu, Ismaya dkk mengancam ke pemerintah pusat, Yogyakarta akan keluar dari NKRI jika dilakukan PILKADA. Ini malah tambah ngawur dan kekanak-kanakan.

    Mari kita bersikap dewasa dan menyelesaikan masalah keistimewaan Yogyakarta ini dengan kepala dingin.

  9. kalo saya baru tiga tahun idup di jogja… juga minum teh botol sosro, apalagi setelah ada teh botak (teh botol kotak) 1 liter… smoga punya toko n payu dan bisa nyari duit dengan tenang juga… [ramutu mode ON!]

  10. TKR says:

    Inilah jogjakarta yang istimewa, ketika ribuan rakyat selalu bisa menyuarakan keinginan kepada penguasanya. soal sultan mau presiden atau gurbernur itu terserah sultan lah. tetapi kalau pemilu lalu kita anggap sebagai bentuk demokrasi, eh.. nanti dulu. bisa demokrasi tanpa pemilu. dan sangat bisa sejahtera tanpa demokrasi.
    nah nilai penting demokrasi adalah rakyat yang mampu menentukan kehendaknya sendiri, coba jogja ini ketika puluhan ribu masa sering menyuarakan pilihannya ini yang disebut demokrasi. lalu ketika ratusan ribu orang meminta tidak ada pemilu di yogyakarta itu tidak berarti demokrasi. nah inilah jogja yang istimewa. kajian sejarah..ok, kajian sosial…ok,
    jadi siapa nih yang harus harus mendapat pendidikan kewarga negaraan secara komprehensif…..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s