Pernikahan Kraton: Upacara Walimahan


Sungguh satu hal yang pengen banget daku komentarin dari seluruh prosesi perhelatan besar di Kraton Ngayogyakarta ini adalah pelaksanaannya sangatlah tepat waktu… benar-benar Kraton Jogja bisa dijadikan teladan…

Kedua mempelai pada Upacara Walimahan ini menggunakan busana Paes Ageng Jangan Menir dengan perhiasan Raja Keputren yang ber-cunduk 5 buah diatas sanggul yang menggambarkan kasih sayang, kenikmatan, keinginan, kekuasaan dan kesucian. Tamu undangan yang hadir pada perhelatan agung Kraton Ngayogyakarta ini kurang lebih 6000 orang.

Pada prosesi ini, posisi duduk kedua mempelai beda dengan biasanya… Biasanya mempelai wanita ada disebelah kiri mempelai pria tapi pada prosesi Pernikahan Kraton ini mempelai wanita ada di sebelah kanan mempelai pria. Maknanya adalah mempelai wanita berasal dari kedudukan yang lebih tinggi (putri Ngarso Dalem atau putri Raja) sehingga ditempatkan disebelah kanan mempelai pria.

Dan untuk mengawali acara Upacara Walimahan ditampilkan tarian Beksan Bedoyo Wiwaha Sangaskoro (Bedoyo manten) yang diciptakan oleh Sultan Hamengkubuono ke-IX ditampilkan oleh 6 penari perempuan yang ditarikan di depan kedua mempelai. Raras dan Putri menggunakan busana pengantin dan 4 penari lainnya dengan busana serimpi yang diiringi dengan Gongso atau Gamelan Kanjeng Kyai Harjomulyo. Tarian ini menggambarkan siklus kehidupan manusia yaitu kelahiran, pernikahan dan kematian dimana pernikahan dianggap sebagai babak baru dari kehidupan manusia. Tarian ini juga menyimbolkan bahwa hidup adalah sebuah pertempuran yang tidak pernah usai dan bagaimana manusia dan kedua mempelai dapat mengendalikan diri untuk kebahagiaan bersama. Tarian ini aslinya berdurasi 2 jam dan pada malam hari ini penampilannya dipadatkan menjadi 20-30 menit.

Tarian kedua yang ditampilkan… Beksan Lawung Ageng Yasan (Lawung Jangkep) yang diciptakan oleh Sultan Hamengkubuono ke-I yang menggambarkan Gladen atau latihan perang keprajuritan. Dan makna lainnya merupakan perang asmara yang diawali dengan gending Angsaran. Posisi Jajar ditarikan oleh 4 orang dengan membawa tombak. Tarian ini aslinya bedurasi 1,5 jam dan pada malam hari ini ditampilkan selama 25 menit.

Usai kedua tari ditampilkan, para tamu undangan memberikan ucapan selamat doa restu kepada kedua mempelai dan orang tua mempelai wanita, Sri Sultan Hamengkubuono ke-X dan GKR Hemas juga orang tua mempelai pria Ibu Handayani dan Raden Didik atau kakak dari mempelai pria. Lalu para tamu undangan dapat menikmati hidangan yang telah disiapkan…

Hm… sekian laporan pandangan mata ke televisi dari daku… hehehe… Mohon maap apabila ada kekurangan… Thanks banget buat TVRI Jogja yang selalu kupantengin mulu biar bisa mengikuti perkembangan Upacara Agung ituh…

2 thoughts on “Pernikahan Kraton: Upacara Walimahan

  1. qonita says:

    manah poto2nyaaaaaaaaaaaah??? videonya kek,,,,, pengen liat prosesinya… semuanyah….

    Meika: Poto gw… pan lu dah punya banyak… **kedip-kedip**

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s