Kampung Ketandan


Berasa ga seh kalo akhir-akhir ini hujan mulu…**emang musimnya kali…ampe Jakarta ajah banjir…** Hehehe… Tapi biasanya emang dihubungkan ama yang namanya Taun Baru Cina… Dan konon katanya kalo Imlek tanpa hujan maka rejeki bakal jauh… benarkah begitu???

Nah kalo kita ngomongin Tahun Baru Cina yang selalu berhubungan dengan air alias hujan, pasti semuanya mulai berhias-hias dengan warna merah, lampion dan juga kue-kue seperti kue keranjang… **Dah dapet kiriman kue keranjang dunk…**

Ga usah jauh2 deh ngomongin Imlek… Ngomongin Imlek di Jogja ajah lah… Ini dia…

Ada satu perkampungan yang terkenal sekali dengan perkampungan Cina yang dihuni oleh masyarakat Ting Hoa… Kalo kita menyusuri Malioboro, ada namanya Jalan Pajeksan… eits.. itu hanya salah satunya saja… ada juga yang di kranggan, poncowinatan dan juga jalan solo yang masing-masing kampung mempunyai karakter sendiri. Sementara pusat perkampungan masyarakat Ting Hoa ada di jalan Ketandan… Masuk ke Jalan Malioboro sampai ketemu Toko Ramayana, trus sebelum toko Ramayana persis ada belokan ke kiri arah ke timur nah… itu dia…kita sudah memasuki Jalan Ketandan pusat perkampungan masyarakat Tiong Hoa di Jogja….

 

Sejarah Ketandan…

Kawasan Ketandan ini mulai terlihat di peta jogja sejak tahun 1830. Nama ketandan sendiri berasal dari kata KA-TANDA-AN yang berarti tempat untuk “TANDA” **dibaca “tondo” bahasa jawa A dibaca O** yang berarti pemungut pajak.

Konon, Sultan Hamengkubuono ke II yang memberikan izin kepada etnis Tiong Hoa untuk menempati daerah ketandan. Beliau ingin bahwa aktifitas perdagangan di Pasar Beringharjo dapat meningkat dengan dukungan para pedagang Cina. Hal ini juga dilakukan Sultan Hamengkubuono II untuk melindungi etnis Tiong Hoa yang saat itu aktifitasnya sangat terbatas dengan adanya 2 hukum Belanda yaitu:

  • “WIJKERSTELSEL” yang membatasi gerak gerik etnis Tiong Hoa untuk memilih tempat tinggal.
  • “PASENSTELSEL” yang membuat mereka tidak dapat bebas bepergian karena membutuhkan “kartu jalan” ketika mereka akan travelling.

 

Keunikan Ketandan…

Salah satu keunikan dan keistimewaan kawasan ini ditandai dengan gaya bangunannya yang khas Tiong Hoa. Kekhasan ini dapat dilihat dari atapnya yang berbentuk Ngang San dengan bubungan ujungnya melengkung ke atas yang dikombinasikan dengan gaya Jawa, Pelana…

Bangunannya pun mempunyai dua sisi, satu sisi depan untuk melakukan aktifitas perekonomian dan sisi belakang difungsikan sebagai rumah tinggal. Dua sisi tipe rumah seperti ini dibangun, tentunya mempunyai tujuan. Konon, karena kehidupan etnis Tiong Hoa dulu… “DULU” sangat sulit maka dua sisi ini dapat berfungsi sebagai “pelarian” jika terjadi hal-hal yang tidak diinginkan…

 

Aktifitas Bisnis…

Aktifitas Kampung Ketandan di dominasi dengan perdagangan khususnya toko emas, toko kelontong dan juga beberapa aktifitas jasa seperti restoran ataupun hotel. Tapi tetep… kalau kamu berjalan menyusuri daerah kampung ketandan ini pasti ketemu banyak banget pedagang emas yang memang mendominasi perekonomian di kampung ketandan…

Liat aja deh… Dari jualan emas yang berbentuk toko sampai yang ada disepanjang jalan **paling mepet sama pasar beringharjo** yang hanya pake kotak kecil dan tidak sedikit yang memajang uang rupiah tempo doeloe…

Nah….kalo udah mau imlek gini… sempetin deh ke kampung ketandan yang pastinya buakal ruuaaammmeee banget dan pasti merah banget… Kampung ketandan pun sudah diidentifikasi sebagai asset pariwisata di kota Yogyakarta dengan kekhasan bangunannya, sejarahnya dan denger-denger seh… **ups…jangan bilang-bilang ya…** Kawasan Kampung Ketandan ini sedang “diperjuangkan” untuk mendapatkan dana dari pemerintah untuk dibangun seperti “Chinatown” di Singapore… Hm… mari kita doakan saja semoga berhasil….

Eitsz… satu lagi biar lebih mantep…dateng ajah di perayaan tahun baru cina / imlek di kawasan Ketandan dimana akan digelar Pekan Budaya Tionghoa Yogyakarta taun 2008 yang akan diselenggarakan pada tanggal 7 sampai 11 Februari 2008.

 

Selamat berkunjung….

 

Artikel ini pernah dipublish berbentuk Audio Visual “Sejarah Ketandan” tahun 2007 di TVRI Jogja… Thanks to kru liputan yang sampai panas2 bolak balik syuting ke ketandan, cari2 data sana-sini: Bu Anggi Karta Pustaka, Pak Tjundoko Ketua RW Kampung Ketandan dan toko Kijang Mas…, Jogja Heritage Society, Pak Is Juwita…, Camera Person: Mas Trikop dan Wendy, Editor: Andhang dan reporternya tentu diriku sendiri…**Narsis Mode ON**

11 thoughts on “Kampung Ketandan

  1. bastian says:

    kok ndak bilang dari dulu ka…?
    padahal cedak ro “PJS” loh, kok aku iso ra weruh yo
    wah telat telat… kapan ya ke jogja lagi…

  2. meikahazim says:

    Hahaha…berarti emang kamu mesti ke jogja lagi bas… ini baru satu kampung lo…masih ada kampung2 lainnya yang khas juga…

  3. Denny Widyan says:

    Ika… comment banyak boleh ya… kalo menurut aku sih Ketandan lebih identik dengan sate B2nya… ingat Ketandan ingat sate B2 Ketandan, persis utara-nya parkiran motor Ramayana… Cina-Cina pasti tau dah… kalo Pajeksan sih beda lagi terkenalnya, susu kuda liar… hahaha…

    Aku pernah ngalamin Imlek di Jogja, sempat ngunjungin pasar malam di daerah Ketandan juga waktu itu, ya kurang berkesan sih, mungkin karena aku asalnya dari Pontianak yang notabene populasi Cinanya banyak dan tradisi Cinanya masih kental banget, ya nggak usah jauh2 lah, bahasa sehari2 yang dipake ya dialek Cina, nah yang satu ini memang susah ditemukan di Jawa, Jogja terutama, kalo bukan Cina perantau dari luar pulau Jawa, kemungkinan besar nggak bisa bahasa Cina.

    Jadi kesimpulannya, kalo emang pengen ngerasain China Town, berkunjunglah ke Pontianak, Singkawang, Medan, Riau… China Town di kota-kota tadi asli terbentuk dari komunitas Cina yang sudah turun temurun menghuni daerah-daerah tersebut. Kalo sengaja dibikin komunitas untuk mendapatkan gelar “China Town” kok ya kesannya artificial gitu ya, apalagi sampai minta dana ke pemerintah, kok ya maksa???

    Menurutku sih banyak hal yang perlu dipertimbangkan dalam membangun sebuah komunitas Cina, bukan cuma sekedar taruh kelenteng, jualan siopao, gantung lampion, tembok-tembok dicat merah trus jadi… hal-hal seperti gaya hidup, interaksi intern komunitas, pattern of behavior, dan banyak lagi hal-hal lain yang juga mesti dipertimbangkan…

    But anyway, di mana ada kemauan di situ ada jalan… aku setuju-setuju aja lah dibikin China Town di Jogja, tapi dengan catatan sate B2 Ketandan nggak boleh digusur, itu landmark-nya Ketandan lho! haha…

  4. meikahazim says:

    Hahaha…Denny tetep ya…B2 yang dibahas… ampe detail tempatnya…tapi bagus lah…Soalnya Meika ga ngerti tuh…hehehe… Maksa bgt minta dana seh ga juga… tapi mencoba menyajikan sisi lain dari jogja…biar kawasan itu lebih bagus dan menarik buat dikunjungi… **bela jogja bgt yak…padahal ngeles promosi ala diajeng neh…hehehe…**

  5. yasir zain says:

    ini bukan buat ika.. soalnya, ika pasti gak bisa bacanya
    /* underestimate mode = ON

    新年快乐

    恭喜发财

    tuh kan… bisa baca nggak? :p
    denny ngomongin B2? gak heran.. dia gourmet khusus “si kaki pendek” itu. tanya aja peta kuliner B2 ma denny. sampe ke gang-gang kecil yang cuma bisa dilewati dengan jalan kaki aja pasti dia tahu. hahahaha

  6. David Lee says:

    Kalo cuma sate B2 kurang lengkap gan… Tambah variasi dgn rica2 asu dan sengsu… Pokoknya yg serba haram dech… Kwkwkwkakak

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s